Panduan Lengkap Praktisi dalam Mencari Saham yang Mengalami Krisis di Pasar Modal Indonesia dengan Potensi Profit Berlimpah
Panduan Lengkap: 12 Pilar Crisis Investing
- 1. Fondasi crisis investing di Pasar Modal Indonesia
- 2. Memilih saham yang sedang mengalami krisis
- 3. Menentukan penyebab krisis dan potensi pemulihan
- 4. Menganalisis laporan keuangan
- 5. Menilai manusia di balik perusahaan
- 6. Menentukan titik beli
- 7. Katalis harga saham
- 8. Red Flag setelah membeli saham
- 9. Menentukan titik jual
- 10. Mental pemenang
- 11. Studi kasus
- 12. Penutup
Crisis investing bermula dari pengalaman pribadi menghadapi masa-masa sulit di pasar modal Indonesia. Sejak membuka akun pertama di perusahaan sekuritas tahun 2013, saya sudah beberapa kali menghadapi kejatuhan pasar modal. Ditandai dengan runtuhnya IHSG.
Artikel perjalanan saya di pasar modal Indonesia:
Perjalanan Heri Danu di Pasar Modal Indonesia
Krisis pasar modal pada umumnya ditakuti oleh investor. Ketika harga saham jatuh signifikan, secara bersamaan, dan dalam waktu yang singkat. Membuat nilai portofolio berkurang signifikan. Saya pun awalnya merasakan hal yang sama. Namun, ketika krisis berlalu, ada pelajaran penting yang saya ambil. Krisis pada dasarnya hanya berdampak pada sedikit emiten, sementara sebagian besar emiten tetap eksis ketika krisis berakhir.
Sebagian kecil emiten akan terdampak cukup signifikan oleh krisis. Ada yang ekuitasnya berkurang signifikan, ada yang bangkrut karena menanggung beban hutang yang besar. Harga saham emiten ini akan turun tajam ketika krisis, dan melanjutkan penurunan setelah krisis berakhir.
Sebagian besar emiten akan merasakan dampak sementara. Setelah krisis dia akan kembali pulih seperti sebelum krisis. Harga saham yang tadinya jatuh, kemudian kembali ke level sebelum krisis, bahkan ada yang lebih tinggi dari harga sebelum krisis.
Satu pertanyaan muncul di benak saya, apakah ada cara memilih saham yang harganya turun tajam ketika krisis, dan mampu bertahan melewati krisis, sehingga harga sahamnya akan naik signifikan. Lalu saya mulai melakukan riset terhadap berbagai saham dan merumuskan caranya. Cara ini kemudian berkembang menjadi sebuah kerangka kerja.
Kerangka kerja ini saya praktikkan ketika terjadi kejatuhan pasar modal lagi. Ada pilihan saham yang berhasil memberikan profit 6 kali lipat, dan ada yang gagal sampai menelan kerugian 90%. Keberhasilan dan kegagalan itu membuat kerangka kerja menjadi lebih baik. Selalu disempurnakan agar valid dan teruji oleh waktu.
Dalam proses meriset dan mempraktikkan, saya menemukan bahwa kerangka kerja tidak hanya digunakan ketika terjadi krisis pasar modal, tetapi juga dapat digunakan dalam kondisi normal maupun kondisi bullish. Karena dalam setiap kesempatan, akan ada emiten yang mengalami kejatuhan harga saham yang signifikan dalam waktu singkat karena krisis yang sedang dialami emiten tersebut.
Inti dari kerangka pemikiran dan kerangka kerja crisis investing saya tuangkan dalam halaman ini. Bisa dikatakan bahwa artikel ini adalah ruh dari keseluruhan isi blog.
Artikel disusun runut dan sistematis menjadi 12 pilar :
1. Fondasi crisis investing di Pasar Modal Indonesia
2. Memilih saham yang sedang mengalami krisis
3. Menentukan penyebab krisis dan potensi pemulihan
4. Menganalisis laporan keuangan
5. Menilai manusia di balik perusahaan
6. Menentukan titik beli
7. Katalis harga saham
8. Red Flag setelah membeli saham
9. Menentukan titik jual
10. Mental pemenang
11. Studi kasus
12. Penutup
Untuk memudahkan pembaca, ada beberapa hal yang perlu diketahui:
1. Kerangka kerja crisis investing bukanlah formula yang bersifat final. Melainkan akan terus berkembang dan disempurnakan seiring waktu.
2. Artikel ini berisi pokok kerangka pemikiran, kerangka kerja, dan mentalitas yang dibutuhkan dalam crisis investing, sementara penjelasan detailnya akan ditulis dalam artikel pendukung. Akan ada banyak link di halaman ini menuju artikel-artikel tersebut.
Dengan 2 hal diatas, pembaca dapat berharap bahwa halaman ini akan sering di-update, baik dari sisi konten maupun penambahan link ke artikel-artikel pendukung.

Memahami Fondasi Crisis Investing di Indonesia
Belajar dari Kisah Saham RAJA: Peluang di Tengah Kepanikan
RAJA adalah kode untuk emiten PT Rukun Raharja Tbk. Perusahaan bergerak dalam bidang energi: minyak, gas, dan energi terbarukan. Tanggal 2 Januari 2020, harga saham RAJA sebesar Rp190. Di awal tahun ini, mulai ramai berita ditemukannya penyakit pernafasan misterius di Wuhan China, yang kemudian dikenal sebagai virus Covid 19.
Tanggal 14 Januari 2020 kasus pertama Covid 19 di luar China ditemukan di Thailand. Sejak saat itu, sedikit demi sedikit kasus Covid 19 bermunculan di seluruh dunia. Ketakutan akan penyebaran virus Covid 19 membuat pasar modal di seluruh dunia dalam kondisi waspada. Tren penurunan mulai terjadi, termasuk di pasar modal Indonesia. Saham RAJA mengalami penurunan signifikan. Di bulan Januari 2020, saham RAJA masih sempat menyentuh harga Rp202. Lalu perlahan mulai menurun. Di bulan Februari 2020, saham RAJA turun drastis sampai ke angka Rp80.
Tanggal 2 Maret 2020, pasien pertama Covid 19 di Indonesia ditemukan. Pasar modal Indonesia mulai mengalami kejatuhan. Harga saham RAJA melanjutkan tren penurunan. Puncaknya di tanggal 23 Maret 2020, saham RAJA menyentuh harga Rp55.
Bayangkan pembaca sudah menjadi investor di Pasar Modal Indonesia. Di tengah suasana yang penuh keraguan dan ketakutan, apakah pembaca berani membeli saham RAJA di periode 2-23 Maret 2020. Jika pembaca berani membeli, apa yang akan terjadi dengan investasi di saham RAJA.
Krisis dalam bentuk apapun akan membuat semua pihak berupaya mencari jalan keluar. Dalam kasus penyebaran Covid 19, jalan keluar utama adalah berusaha menemukan vaksin dan menjaga roda ekonomi tetap berjalan.
Ketika berbagai stimulus ekonomi dikeluarkan, kondisi pasar modal mulai naik kembali. Di bulan November 2020, vaksin pertama Covid 19 diumumkan siap digunakan. Optimisme berkembang, saham RAJA menyentuh harga Rp200. Kembali ke harga di bulan Januari 2020.
Selama 2 tahun berikutnya, periode November 2020 – September 2022, histori harga saham RAJA naik signifikan. Dari Rp200 di November 2020 menjadi Rp1230 di September 2022. Kalau ditarik lebih jauh lagi sampai tahun 2026, saham RAJA mencapai puncak harga di Rp8750.
Inilah potensi dari crisis investing. Membeli saham RAJA di kisaran Rp55-Rp80 pada saat krisis Covid, menyimpannya sampai krisis berlalu. Harga saham naik jadi Rp1230 di September 2022, lalu naik lagi menjadi Rp8750 di Januari 2026.
Contoh emiten lain:
BRPT (Barito Pacific Tbk), Beli Saat Krisis 2015, Jual Tahun 2019, Memberikan Keuntungan 125 Kali Lipat (Bagian 1) —> artikel berseri sampai bagian 5.
Karakteristik Krisis: Membedakan Peluang vs Perangkap
Dalam crisis investing, setiap harga saham yang terjun bebas sering kali terlihat sebagai peluang emas. Namun kenyataannya, tidak semua penurunan adalah peluang emas. Kita harus bisa membedakan mana emiten yang krisisnya bersifat sementara dan yang bersifat akut. Membedakan dua jenis emiten ini seperti membedakan dua orang yang sedang sakit. Mana yang sedang menderita flu dan mana yang sedang menderita kanker.
Sebuah emiten dapat dikatakan memiliki peluang emas jika memenuhi 2 syarat:
1. Harga sahamnya turun, tapi fundamental perusahaan tidak berubah
2. Harga saham dan kualitas fundamental turun, namun diyakini fundamental perusahaan akan kembali pulih.
Emiten menjadi perangkap jika memenuhi 1 syarat saja. Harga saham turun karena fundamental perusahaan turun dan diyakini tidak akan kembali ke kondisi awal. Penurunan fundamental jenis ini biasanya terjadi karena 3 hal:
1. Masalah struktural : perubahan landscape bisnis, kalah bersaing dengan kompetitor, dan yang lainnya
2. Hutang sudah tidak terkendali : kemampuan membayar sudah tidak ada, beban bunga hutang melebihi laba operasional
3. Isu integritas : skandal laporan keuangan, pemegang saham pengendali berusaha meninggalkan perusahaan dengan menjual saham sedikit demi sedikit, dan yang lainnya.
Rekam Jejak Krisis Pasar Modal Indonesia dalam 30 Tahun Terakhir
Tahukah pembaca berapa kali pasar modal kita mengalami krisis dalam 30 tahun terakhir. Untuk menjawabnya, kita terlebih dahulu harus mendefinisikan syarat terjadinya sebuah krisis di pasar modal Indonesia.
Dari hasil riset, saya mensyaratkan sebuah krisis terjadi di pasar modal Indonesia jika :
“terjadi penurunan IHSG minimal 20 % dari titik tertinggi selama 1 tahun ke belakang”.
Kenapa muncul angka 20%. Saya akan mengupasnya lebih detail di artikel pelengkap.
Dari syarat diatas, selama 30 tahun terakhir terjadi 4 kali krisis di Bursa Efek Indonesia.
Krisis Moneter 1998
Krisis moneter 1998 terjadi karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD. Banyak perusahaan yang gulung tikar karena tidak bisa membayar hutang dalam USD.
Krisis Finansial Global 2008
Krisis finansial global disebabkan runtuhnya pasar keuangan USA akibat kegagalan subprime mortgage. Efek domino krisis keuangan di USA menjalar sampai ke Indonesia. Emiten-emiten di sektor keuangan paling terdampak. Harga sahamnya menukik paling tajam.
Krisis Komoditas 2015
Banyak pihak yang tidak memasukkan kejatuhan IHSG di tahun 2015 sebagai sebuah krisis. Saya memasukkannya karena memenuhi syarat menurunnya IHSG minimal 20% dari angka tertinggi 1 tahun ke belakang. Krisis komoditas tahun 2015 terjadi karena menurunnya harga komoditas utama Indonesia seperti batubara dan minyak. Penurunan harga terjadi karena kombinasi 2 hal: perlambatan ekonomi China dan ketidakpastian The Fed dalam menaikkan suku bunga pertama kali sejak krisis 2008. Krisis ini memberikan dampak paling besar ke emiten berbasis komoditas. Banyak diantara mereka terancam bangkrut, tidak bisa membayar hutang karena harga komoditas sangat rendah sehingga laba operasional tidak cukup untuk menutupi hutang jatuh tempo.
Krisis Covid 2020
Krisis 2020 terjadi karena penyebaran virus Covid yang memaksa diberlakukannya pembatasan wilayah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pembatasan ini benar-benar melumpuhkan roda ekonomi.
Dari keempat krisis tersebut kita bisa menarik 1 benang merah :
“Apapun penyebabnya, krisis terjadi karena roda ekonomi melambat drastis. Dan beberapa waktu kemudian roda ekonomi kembali pulih.”
Setiap krisis memiliki waktu kadaluarsa. Dengan memahami pola krisis ini, kita tidak akan melihat penurunan IHSG sebesar 20% sebagai akhir dunia, melainkan sebagai kesempatan yang datang hanya sekali dalam 5-10 tahun.
Tiga Jenis Krisis di Bursa Efek Indonesia
Kita dapat memanfaatkan 4 krisis pasar modal tersebut untuk mencari saham-saham yang berpotensi mendatangkan profit tinggi. Hampir semua saham akan mengalami penurunan signifikan, beberapa diantaranya bisa saja seperti saham RAJA.
Namun, perlu diingat bahwa crisis investing tidak hanya dimanfaatkan ketika krisis pasar modal terjadi. Dalam crisis investing, ada 3 jenis krisis yang dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah krisis pasar modal.
Inilah 3 jenis krisis yang terjadi di bursa kita:
1. Krisis pasar modal
Jenis krisis ini membuat semua emiten mengalami penurunan signifikan. Dalam bagian sebelumnya sudah disebutkan 4 krisis pasar modal yang terjadi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir
2. Krisis industri
Krisis industri adalah krisis yang dialami emiten karena perubahan penting di industri yang digeluti. Contoh: di kuartal pertama tahun 2024 saham-saham berbasis industri udang beku olahan mengalami penurunan harga yang signifikan. Contohnya saham PMMP, harga saham turun dari Rp625 ke Rp50. Penurunan harga saham disebabkan penurunan pendapatan yang signifikan. Penyebab penurunan pendapatan adalah diberlakukannya kebijakan anti dumping oleh pemerintah USA. Semua produk udang olahan beku dari Indonesia dikenakan tarif masuk yang lebih tinggi. Alhasil importir di USA beralih ke negara lain. Karena USA adalah pasar ekspor utama bagi perusahaan Indonesia, kebijakan ini berdampak signifikan. PMMP yang mengekspor 75% produknya ke USA mengalami dampak yang paling besar.
3. Krisis internal
Krisis internal terjadi karena krisis di dalam perusahaan, biasanya terkait dengan kasus-kasus di tingkat manajerial. Contoh krisis internal dialami oleh saham LPCK di tahun 2018. Waktu itu beberapa pejabat LPCK ditetapkan tersangka oleh KPK karena kasus suap perijinan proyek Meikarta. Dalam 2 hari, harga saham LPCK anjlok 32%.
Mengapa Crisis Investing Menawarkan Risk-Reward yang Terukur
Pelajaran paling berharga dalam perjalanan investasi saya bukanlah saat meraih profit 6 kali lipat, melainkan saat harus menelan pahitnya kerugian hingga 90%. Saya membayar “uang belajar” yang cukup mahal agar pembaca tidak mengalaminya.
Setelah mengalami kerugian yang signifikan, fokus saya adalah menciptakan kerangka kerja yang dapat melindungi modal atau downside protection.
Anehnya, ketika kita berhenti mengejar profit jumbo dan mulai terobsesi mengunci risiko, profit besar justru sering kali datang dengan sendirinya. Inilah yang disebut dengan asimetri risiko: kita mengunci potensi kehilangan di level paling minimal, namun membiarkan pintu pemulihan terbuka lebar untuk keuntungan yang berlipat.
Memilih Saham Yang Sedang Mengalami Krisis
Screening Awal Menggunakan Valuasi PBV
Saat ini di Bursa Efek Indonesia ada 956 emiten, hampir seribu. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana cara mencari emiten yang sedang mengalami krisis. Dilihat satu-satu jelas tidak mungkin. Berdasarkan berita yang menyiratkan emiten A sedang krisis juga bukan langkah yang tepat karena sifat randomnya. Kita memerlukan cara yang terukur, tepat mendapatkan saham yang paling menderita krisis, dan dapat digunakan setiap waktu dalam kondisi apapun.
Alat yang paling tepat dengan menggunakan valuasi PBV. Valuasi ini cara paling sederhana untuk melihat apakah harga saham terdiskon cukup besar dibanding nilai asetnya. Indikasi awal bahwa sebuah saham sedang mengalami penurunan signifikan.
Langkah pertama adalah mencari data semua emiten dan mengurutkannya berdasarkan PBV paling kecil. Data ini dapat pembaca cari dari beberapa penyedia data saham. Setelah diurutkan, saya akan melihat emiten satu persatu dari PBV yang paling kecil. Ada 3 hal yang saya lihat :
1. Sekecil apa PBV saat ini
2. Bagaimana PBV emiten beberapa bulan sebelumnya. Apakah ada penurunan yang signifikan. Jika tidak, lanjut melihat emiten berikutnya. Jika ya, lanjut ke langkah ke 3
3. Menentukan emiten masuk ke saham jenis apa. Bagian ini dibahas selanjutnya.
Artikel pendukung:
Mengenal PBV, Instrumen Penting Dalam Crisis Investing
Membedakan Saham Krisis, Saham Siklus, dan Saham Ilusi
Di daftar emiten dengan PBV rendah, ada 3 jenis saham yang akan kita temui :
1. saham krisis
2. saham siklis
3. saham ilusi.
Tugas pertama kita adalah menentukan setiap saham termasuk jenis yang mana. Jika di urutan 1 adalah saham siklus, kita lanjut ke urutan berikutnya sampai ditemukan saham krisis. Lalu apa beda ketiganya.
Saham Krisis: Peluang Emas Mendulang Profit
Saham krisis adalah emiten yang harga sahamnya jatuh ke titik sangat rendah karena sedang menghadapi masalah serius, baik itu masalah internal perusahaan, tekanan industri, maupun kepanikan pasar modal. Akibatnya, investor yang ketakutan beramai-ramai menjual saham ini, sehingga valuasinya tertekan hingga ke level yang tidak masuk akal.
Saham krisis memiliki beberapa ciri:
1. Nilai PBV secara historis berada di level terendah selama 10 tahun atau bahkan sejak IPO.
2. Dengan sedikit pencarian di internet, kita langsung tahu masalah serius apa yang dialami emiten. Masalah biasanya bersifat luar biasa sehingga mudah terendus oleh media.
Saham krisis ini yang akan kita analisa lebih lanjut. Jika saham yang dipilih lolos uji kerangka kerja hingga tahap akhir, maka kita mendapatkan saham yang berpotensi profit tinggi dengan risiko yang ditekan seminimal mungkin.
Saham Siklis: Profit Moderat Dengan Risiko Rendah
Saham siklis adalah emiten yang harga saham dan atau fundamentalnya bergerak mengikuti siklus tertentu. Siklus ini bisa berupa siklus industri maupun siklus ekonomi.
Saham siklis terkadang seperti saham krisis jika kita tidak jeli melihatnya. Saya akan membahas lebih detail cara untuk membedakan saham krisis dan saham siklis di artikel tersendiri.
Artikel Pendukung:
Mendulang Profit Dari Saham Siklus (Bagian Pertama) , —> artikel berseri sampai bagian 2
Salah satu contoh klasik emiten yang masuk dalam saham siklis adalah PNIN. Ketika harga saham jatuh di titik terendah secara historis sering dikira sedang mengalami krisis, padahal itu adalah fenomena yang terus berulang dalam kurun waktu yang lama. Untuk membahas fenomena saham PNIN, bisa dibaca di artikel berikut :
PNIN – Saham Yang Bersifat Siklis
Saham siklis dapat kita manfaatkan sebagai sumber profit. Caranya kita harus menganalisis emiten sampai puluhan tahun ke belakang sehingga didapatkan gambaran siklusnya secara utuh. Jika sudah dapat siklusnya, kita tinggal membeli di kisaran valuasi terbawah siklus (atau di lembah siklus) lalu menunggu hingga valuasi naik kembali sesuai pola siklus. Di saham siklis, waktu menjadi faktor penentu.
Saya tidak akan membahas saham siklis dalam bahasan selanjutnya walaupun saham jenis ini bisa mendatangkan profit moderat dengan tingkat risiko yang sangat terukur. Saya akan fokus ke saham krisis. Bagi yang tertarik mempelajarinya bisa mencari rujukan ke tokoh investasi dunia yang membahas saham siklis, seperti Peter Lynch.
Saham Ilusi: Jebakan Berbahaya
Ketika mengecek screener emiten, terkadang saya menemukan saham yang tiba-tiba masuk radar karena PBV-nya turun drastis. Setelah diteliti sejenak, penurunan PBV ini bukan karena penurunan harga saham, tapi karena kenaikan nilai aset yang signifikan. Kenaikan nilai aset bisa disebabkan kegiatan operasional maupun kegiatan non operasional.
Jika penurunan PBV disebabkan kenaikan aset karena kegiatan non operasional, kita harus mengaktifkan mode waspada. Sebagai contoh, emiten KBLV memiliki saham MLPT dalam portofolionya. Ketika saham MLPT naik signifikan diluar nalar, maka PBV saham KBLV menjadi sangat kecil. Ini jebakan yang sangat berbahaya. Kenapa? Karena jika saham MLPT turun kembali ke level semula, valuasinya juga akan kembali ke level semula. Saya akan membahas dalam artikel tersendiri tentang fenomena beberapa saham dari grup Lippo yang masuk dalam saham ilusi secara bersamaan akibat melonjaknya harga saham MLPT.
Jadi saham ilusi adalah emiten yang secara kasat mata terlihat menarik karena penurunan PBV yang signifikan, namun PBV-nya sangat rapuh dan mudah berubah. Ini jenis saham yang wajib kita hindari. Sangat spekulatif dan menjadi jebakan berbahaya.
Menentukan Penyebab Krisis dan Potensi Pemulihan
Melihat harga saham yang terjun bebas sering kali membuat investor retail terjebak antara kepanikan untuk menjual atau semangat untuk membeli. Keduanya melakukan kesalahan yang sama. Keduanya bereaksi terhadap gejala, bukan terhadap penyakit.
Dalam crisis investing, kita bertindak layaknya dokter forensik yang melakukan diagnosa sebelum operasi. Kita wajib menemukan satu penyebab yang memicu krisis, menilai apakah penyakitnya bersifat temporer atau permanen, serta menghitung apakah emiten masih memiliki peluang untuk bertahan.
Penyebab Utama Krisis: Hanya Satu dan Satu-Satunya
Jika mengalami sakit kepala, seringkali kita menganggap sakit kepala adalah masalahnya. Dan mencari obat pereda nyeri sebagai solusinya. Padahal, sakit kepala itu adalah gejala. Obat pereda nyeri yang kita minum hanya untuk meringankan gejala. Kita sering lupa bahwa ada penyebab yang menimbulkan gejala sakit kepala. Penyebabnya bisa beberapa kemungkinan : diserang virus/bakteri/jamur, tekanan darah tinggi, dan yang lainnya. Misal penyebab sakit kepala yang kita derita adalah serangan virus flu. Maka respon yang paling tepat untuk mengatasi penyebabnya adalah dengan membantu imunitas tubuh melawan virus flu. Istirahat yang cukup, minum air putih yang cukup, asupan makan dipenuhi, tambah dengan suplemen atau vitamin. Jika dokter mendiagnosa virus terlalu kuat dilawan imunitas kita, maka diberikan obat anti virus.
Gejala bisa berwujud banyak, seperti analogi orang flu dengan gejala sakit kepala, bersin, batuk, dan yang lainnya. Penyebab utamanya hanya satu, misal terserang virus flu. Faktor lain seperti kelelahan, kehujanan, dan lainnya adalah pendukung yang memperbesar gejala dan tingkat keparahan.
Begitu juga dengan saham krisis, kita sering mengira penurunan pendapatan, penurunan laba, dan gejala lainnya sebagai penyebab krisis. Itu bukanlah penyebab tapi gejala.
Dalam crisis investing, kita harus menemukan satu penyebab utama yang menimbulkan krisis. Sebagai contoh saham AKPI yang memberi saya keuntungan 6 kali lipat. Tahun 2019 harga saham AKPI merosot. Berikut kronologi dan penyebab utamanya.
Tahun 2012-2018 emiten AKPI berkembang pesat. Pendapatan setiap tahun selalu bertumbuh. Dari 1,5 trilyun di tahun 2012 menjadi 2,3 trilyun di tahun 2018. Tahun 2019, pandapatan AKPI 2,2 trilyun. Untuk pertama kali, pendapatan AKPI lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pasar bereaksi dan harga saham AKPI turun dari Rp1200 di tahun 2018 menjadi Rp350 di tahun 2019. Pendapatan turun karena kapasitas produksi berkurang. Berkurangnya kapasitas karena kebakaran yang melanda salah satu pabrik.
Dapatkah pembaca menemukan penyebab utama krisis AKPI. Yap betul, penyebab utamanya bukan penurunan pendapatan atau kapasitas produksi berkurang, tapi karena kebakaran yang melanda salah satu pabrik.
Bagaimana dengan emiten PMMP yang menjadi contoh krisis industri. Penurunan 70% pendapatan PMMP merupakan gejala. Penyebab utamanya adalah kebijakan anti dumping USA yang menaikkan tarif masuk bagi produk udang olahan beku dari Indonesia.
Kalau penyebab utama bisa dipetakan dengan benar, langkah-langkah selanjutnya akan lebih fokus dan solid. Seperti petuah bijak yang mengatakan “menentukan masalah dengan tepat adalah separuh jalan menemukan solusi”
Krisis Bersifat Temporer Atau Permanen
Poin krusial dalam crisis investing adalah menentukan apakah krisis bersifat temporer atau permanen. Jika bersifat temporer jadi peluang. Jika bersifat permanen jadi jebakan. Ketelitian dalam menentukan 2 kemungkinan ini sangat mempengaruhi hasil akhir investasi.
Krisis temporer adalah gangguan yang menghantam kinerja emiten namun tidak merusak mesin utama bisnisnya secara permanen. Kebalikannya, krisis permanen akan mematikan mesin utama lalu menggerogoti keuangan emiten hingga tidak ada yang tersisa.
Dalam contoh saham AKPI, krisis bersifat temporer. AKPI memiliki beberapa pabrik. Kebakaran 1 pabrik memang membuat pendapatan turun 5%, tapi mesin utamanya tetap berjalan. Pabrik lain masih berproduksi, pelanggan juga tidak lari.
Dalam kasus PMMP, krisis bersifat temporer, sampai ada kebijakan baru dari pemerintah USA yang lebih baik bagi emiten. Pertanyaannya, perlu waktu berapa lama sampai kebijakan berubah. Sebagai investor retail dengan keterbatasan akses informasi, yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Abaikan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, fokus ke hal yang bisa kita lakukan. Analisis apakah mesin utama PMMP masih berjalan, atau tertatih-tatih menuju kegagalan.
Bagaimana dengan contoh emiten yang mengalami krisis permanen. Contoh yang sempurna adalah emiten TAXI. Sebelum tahun 2015, TAXI merupakan pemain transportasi terbesar kedua di Indonesia setelah emiten BIRD. Fundamentalnya terlihat kokoh, armadanya ribuan, sempat menjadi primadona investor retail karena pertumbuhannya yang agresif. Bisnis TAXI berubah drastis karena kemunculan teknologi ride-hailing (Gojek, Grab, Uber). Lanscape bisnis berubah drastis. Perusahaan sangat terdampak dengan eksodus pelanggan ke teknologi baru. Ribuan armada yang sebelumnya menjadi aset kini menjadi beban. Diperparah dengan metode pengadaan armada menggunakan hutang obligasi. Ribuan armada tidak lagi berjalan optimal, sementara bunga pinjaman tetap harus dibayar. Kenapa BIRD bisa bertahan sementara TAXI menghilang. Karena BIRD punya diferensiasi bisnis: bus wisata, rental mobil, taksi premium. Sementara TAXI hanya taksi.
Apakah Emiten Punya Peluang Melalui Krisis
Jika krisis emiten bersifat temporer, selanjutnya adalah menghitung peluang emiten dapat melalui krisis dan kembali ke kondisi semula.
Menghitung peluang emiten selamat dari krisis sama dengan menghitung peluang orang yang sedang sakit. Apakah emiten bisa bertahan sampai obatnya datang atau emiten kehabisan oksigen (baca: finansial). Menilai peluang pemulihan adalah menghitung adu cepat antara durasi krisis dengan sisa napas perusahaan. Cara menghitung oksigen ini akan dibahas dalam bagian analisis laporan keuangan.
Dalam kasus AKPI, saya bisa menyimpulkan perusahaan punya peluang besar untuk bertahan. Karena di laporan keuangan tercantum bahwa seluruh aset pabrik (bangunan dan mesin) sudah diasuransikan. Tinggal menunggu waktu saja, klaim asuransi cair, pabrik dibangun kembali, produksi kembali normal. Karena penurunan pendapatan tidak terlalu besar, AKPI masih mencatatkan keuntungan sedikit, Jadi AKPI akan baik-baik saja selama menunggu proses pemulihan.
Dalam kasus PMMP, terlihat sedikit jalan keluar ketika pemerintah RI menegosiasikan tarif baru dengan pemerintah USA. Memang ada hasilnya, namun berupa keringanan saja. Dan ini belum cukup untuk membuat produk PMMP masuk ke USA seperti sediakala karena masih kalah bersaing dengan negara lain. Karena usaha untuk memperbaiki kebijakan tidak berhasil, usaha lain PMMP adalah mencari pasar baru. Ini berarti PMMP berlomba-lomba antara menemukan pasar baru dan ketahanan finansialnya. Mencari pasar baru bukan hal yang mudah, kita tahu PMMP tidak mempublikasikan laporan keuangan tahun 2025 sejak kuartal 1. Apa yang terjadi dengan PMMP sekarang. Yang pasti sedang berdarah-darah, sepertinya parah.
Cara Menganalisis Laporan Keuangan Emiten yang Sedang Krisis
Membaca laporan keuangan emiten yang sedang mengalami krisis berbeda dengan membaca laporan keuangan emiten yang sehat. Yang kita cari bukan seberapa besar pertumbuhan pendapatan atau seberapa besar pertumbuhan laba, melainkan mencari tahu daya tahan emiten menghadapi krisis. Kita menghitung sisa oksigen yang dimiliki perusahaan
Tanggal Rilis Laporan Keuangan Sebagai Filter Awal
Saya menemukan bahwa emiten yang menuju fase kegagalan cenderung akan menunda rilis laporan keuangan. Atau bahkan laporan keuangan tidak dirilis lagi. Contohnya pada saham PMMP yang sebelumnya saya jadikan contoh krisis industri. Emiten mengalami krisis industri di tahun 2024. Laporan keuangan emiten masih lancar sampai kuartal 4 tahun 2024. Namun laporan keuangan kuartal 1 tahun 2025 tidak terbit sampai tahun 2026. Begitu juga dengan laporan kuartal selanjutnya. Ini sudah jelas sinyal merah PMMP menuju fase kegagalan.
Pengecualian terjadi jika emiten menunda laporan keuangan karena sebab khusus, misal untuk melakukan audit sebagai syarat melakukan sebuah aksi korporasi. Jika ini yang terjadi, emiten biasanya memberi pemberitahuan kepada otoritas bursa. Kita bisa dengan mudah mencari dokumen pemberitahuannya di kanal Bursa Efek Indonesia.
Kejujuran dan Konsistensi Nilai Buku: Fondasi Utama Sekaligus Benteng Pertahanan Terakhir
Nilai buku emiten menjadi krusial karena menjadi benteng pertahanan terakhir kita. Saat sebuah perusahaan dihantam krisis, labanya mungkin hilang, operasionalnya mungkin terganggu, tapi selama nilai bukunya tetap utuh dan jujur, kita memiliki pegangan untuk mengukur seberapa jauh harga bisa jatuh.
Agar menjadi benteng yang kokoh, nilai buku harus memenuhi 2 parameter:
1. Kejujuran
Apakah angka yang tercatat di laporan keuangan mencerminkan nilai nyata? Kita harus memastikan tidak ada aset ghaib seperti goodwill yang digelembungkan atau aset-aset kertas lainnya. Jika angkanya tidak jujur, maka lantai tempat kita berdiri adalah lantai kayu lapuk yang siap jebol kapan saja.
2. Konsistensi
Nilai Buku yang bagus adalah nilai buku yang tidak mudah berubah. Kita mencari aset yang nilainya stabil atau bahkan cenderung naik seiring waktu, meskipun perusahaan sedang mengalami rugi operasional.
Analisis Aset Solid: Membedakan Aset Nyata dengan Aset Semu
Untuk memiliki nilai buku yang kokoh, kita harus memiliki aset yang solid, yaitu aset yang nilainya sulit dimanipulasi dan memiliki ketahanan tinggi terhadap fluktuasi ekonomi. Beberapa contoh aset yang solid adalah:
– kas dan setara kas
– tanah, apalagi jika nilai yang tercantum di laporan keuangan adalah nilai pembelian bukan nilai revaluasi
– piutang usaha belum jatuh tempo
Aset semu adalah nilai-nilai yang muncul karena standar akuntansi namun tidak memiliki nilai nyata dalam mendukung perusahaan di saat krisis. Salah satu contoh aset semu adalah nilai perolehan software di emiten ekosistem pembayaran digital.
Artikel Pendukung:
Beli Saham Karena Aset atau Potensi ???
Seberapa Besar Krisis Akan Menggerus Nilai Buku
Dalam kondisi krisis, besar kemungkinan emiten akan mengalami kerugian operasional. Kerugian bisa berlangsung dalam 1 kuartal, 1 tahun, atau lebih, bergantung pada lamanya krisis yang dialami. Kerugian operasional akan menggerus nilai buku sedikit atau banyak. Tugas kita adalah memperkirakan berapa nilai buku yang akan tergerus selama krisis.
Karena kita menemukan emiten sudah dalam kondisi krisis, maka kita sudah bisa melihat kerugian yang terjadi. Dari angka ini, dan dengan mempertimbangkan penyebab krisis, kita bisa memperkirakan kerugian di kuartal selanjutnya. Jika kerugian tidak terlalu signifikan terhadap nilai buku, itulah yang kita cari.
Terkadang ada kasus emiten mengalami krisis karena penurunan pendapatan. Sebelum krisis, pendapatan sangat besar sehingga laba operasionalnya juga besar. Lalu pendapatan menurun dan laba turun drastis, tapi tidak rugi. Ini kondisi yang ideal, harga saham turun tajam karena laba turun tajam tapi tidak rugi. Artinya sebelum emiten keluar dari krisis dia tetap mengalami kenaikan nilai buku.
Jika nilai buku diibaratkan sebagai benteng crisis investing, maka aset semu dan kerugian operasional adalah serangan dari dalam yang mencoba meruntuhkan benteng.
Analisis Solvabilitas : Mengapa Hutang Adalah Musuh Terbesar Saat Krisis
Ketika krisis terjadi, perusahaan yang terkena dampak akan mencoba bertahan hidup. Dengan harapan ketika krisis berlalu, operasional perusahaan akan kembali berjalan lancar. Berbagai strategi ditempuh, dari melakukan pengurangan karyawan sampai menutup unit usaha yang kurang maksimal. Yang penting menekan serendah-rendahnya pengeluaran sampai krisis berlalu.
Tapi, ada satu pengeluaran yang tidak bisa ditekan apalagi dikurangi, hutang. Bahkan, ketika krisis terjadi, para pemberi pinjaman akan gencar melakukan penagihan piutang yang sudah jatuh tempo, karena mereka pun butuh uang untuk melalui krisis.
Diatas saya menyinggung tentang kerugian 90% yang pernah saya alami. Penyebabnya adalah karena saya menyepelekan hutang. Saya tahu bahwa emiten yang saya beli memiliki hutang obligasi yang akan jatuh tempo. Saya mengabaikannya karena melihat rating yang diterbitkan lembaga pemeringkat, yang saya pikir cukup untuk menilai emiten tidak akan gagal bayar. Tapi kenyataannya, suatu pagi saya baca berita bahwa emiten gagal bayar bunga obligasi. Dan ternyata, sore hari sebelumnya, ketika pasar modal sudah tutup, lembaga pemeringkat mengeluarkan rating terbaru yang menyatakan emiten waspada default. Apa yang bisa saya lakukan ketika rating diumumkan sore hari setelah pasar tutup, lalu keesokan paginya disuspensi oleh otoritas bursa karena gagal bayar bunga obligasi.
Beberapa hari setelahnya suspensi dibuka karena emiten membayar bunga obligasi, tapi pasar sudah kehilangan kepercayaan dan beramai-ramai menjual. Hampir tidak ada yang mau membeli. Harga saham turun tajam, lalu suspensi, buka kembali dan melanjutkan penurunan, begitu seterusnya sampai saya bisa menjual dengan kerugian 90%.
Selain pelajaran untuk tidak mempercayai sepenuhnya lembaga rating, pelajaran utama yang saya petik dari kerugian ini adalah untuk tidak menyepelekan hutang di saat krisis. Bahkan, setelahnya saya menyadari bahwa hutang adalah musuh utama emiten di saat krisis. Karena paling membekas dan memberikan pelajaran yang sangat berharga, artikel pertama yang saya ditulis di blog ini adalah:
Hutang, Musuh Terbesar di Saat Krisis.
Jika nilai buku diibaratkan sebagai benteng crisis investing, maka hutang adalah serangan dari luar yang mencoba meruntuhkan benteng.
Menilai Keberlanjutan Emiten Dari Pendapatan
Pendapatan adalah oksigen bagi emiten, menandakan bahwa perusahaan masih memiliki kehidupan. Pendapatan akan mendatangkan kas, yang digunakan untuk menggaji karyawan, membayar listrik kantor, dan biaya rutin lainnya.
Yang kita cari adalah penurunan pendapatan yang tidak terlalu dalam meskipun emiten sedang mengalami krisis. Menjadi tanda bahaya kalau pendapatan turun sangat drastis. Seperti kasus emiten PMMP yang kehilangan 70% pendapatan karena kehilangan pasar ekspor ke USA. Kehilangan pendapatan dalam porsi besar menyebabkan emiten kehilangan sumber pendanaan rutin. Akhirnya emiten akan menggunakan sumber dana lain untuk membayar pengeluaran rutin. Lama kelamaan kas dan setara kas habis, mencari hutang baru sulit, mencari investor baru sudah tidak dipercaya pasar. Fase menuju kebangkrutan dimulai.
Jika nilai buku diibaratkan sebagai benteng crisis investing, maka pendapatan adalah logistik bagi orang-orang di dalam benteng untuk tetap hidup mempertahankan benteng tetap berdiri.
Risiko Saham Repo dan Bahaya Konsentrasi Saham Retail yang Sangat Tinggi
Jika nilai buku diibaratkan sebagai benteng crisis investing, maka saham repo dan konsentrasi saham retail yang sangat tinggi adalah penghianat dari dalam yang bisa meruntuhkan benteng kapanpun.
Saham repo menandakan pemilik saham berani kehilangan saham untuk mengejar uang tunai. Jika saham repo sudah jatuh tempo dan porsinya besar, harga saham akan turun drastis karena pemberi fasilitas repo akan menjual saham sedikit demi sedikit meskipun harga saham turun. Efek domino akan terjadi karena investor lain panik melihat penurunan harga dan ikut menjual juga.
Kita sering mendengar istilah saham sejuta umat karena porsi kepemilikan retail yang tinggi. Dalam kondisi biasa, ini bagus karena saham menjadi sangat likuid. Namun ketika emiten mengalami krisis, porsi kepemilikan saham retail yang sangat tinggi akan menjadi bumerang. Penurunan harga saham akan sangat brutal dan berlangsung lama.
Saya mensyaratkan porsi kepemilikan saham retail maksimal 50%. Selain menghindari penurunan harga saham yang brutal, juga untuk menjaga komitmen pemegang saham pengendali. Jika pemegang saham pengendali memegang porsi lebih sedikit dari investor retail, apakah mereka mau berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan perusahaan.
Menilai Faktor Manusia di Balik Perusahaan (Aspek Kualitatif)
Laporan keuangan yang kita bedah memberitahu kita seberapa kuat benteng yang ada saat ini. Namun, untuk mengetahui apakah benteng akan bertahan atau menyerah, kita harus melihat siapa komandan tertingginya.
Yang saya maksudkan komandan tertinggi bukanlah CEO atau presiden direktur, melainkan pemegang saham pengendali (PSP) atau pemegang manfaat akhir paling besar (Ultimate Beneficial Owner).
Kita tidak bertanya seberapa hebat visi presiden direktur untuk menyelamatkan perusahaan, tapi seberapa kuat keinginan ultimate beneficial owner untuk bertarung menyelamatkan emiten.
Dalam crisis investing, CEO adalah kapten kapal, tapi pemegang saham pengendali adalah pemilik armada. Sang kapten mungkin ingin menyelamatkan kapal, tapi jika sang pemilik armada merasa menenggelamkan kapal lebih menguntungkan secara finansial, maka kapal itu akan tenggelam.
Menelusuri Rekam Jejak Pemilik Emiten
Di pasar modal Indonesia, mencari tahu siapa ultimate beneficial owner bisa menjadi tantangan tersendiri. Kadang kita tidak mengetahui siapa dalangnya secara langsung, perlu riset yang cukup dalam dengan menggabungkan berbagai informasi. Bisa dari web emiten, berbagai berita di internet, dan berbagai laporan resmi di kanal BEI. Dengan saling menyilangkan informasi dan terus mengejar kemana informasi itu mengarah, kita akan mendapatkan sebuah nama.
Jika nama pemilik manfaat akhir sudah didapat, selanjutnya melakukan riset untuk mengetahui:
Apakah nama ini tipe petarung yang akan menyelamatkan emiten atau tipe oportunis yang cenderung mencari sekoci untuk menyelamatkan diri sendiri.
Sebagai investor retail dengan keterbatasan akses informasi, cara paling efektif menelusuri rekam jejak pengendali adalah dengan melihat jejak digitalnya.
Berikut beberapa tips dalam melakukan riset :
1. Lakukan pencarian di mesin pencari dengan keyword nama pengendali + keyword negatif, seperti : nama pengendali + gagal bayar hutang, nama pengendali + kasus hukum, nama pengendali + restrukturisasi
2. Lihat saat krisis 2008 dan 2020. Apakah pengendali menyuntikkan modal pribadi, melakukan buyback saham, atau membiarkan emiten sendirian.
3. Segelintir pengendali di Indonesia memiliki banyak emiten. Ada emiten yang berfungsi sebagai mesin uang dan menjadi anak emas, sementara yang lain hanya pelengkap. Tentukan emiten yang sedang kita riset masuk di kelompok yang mana. Jika anak emas itu sangat baik. Jika jadi pelengkap, perkirakan kemungkinan emiten dibuang.
4. Cari aksi korporasi di masa lalu. Pengendali yang oportunis tidak hanya jualan saham, tapi juga senang melakukan right issue atau transaksi pihak berelasi yang merugikan investor retail.
Sinyal Bahaya (Red Flag) Saat Pengendali Saham Mulai Jualan
Saya beberapa kali menjumpai pemegang saham menjual saham sedikit demi sedikit ketika emiten mengalami krisis. Ini adalah lampu merah untuk membeli. Pengendali menjual saham berarti berusaha melepas beban dan meninggalkan investor retail sendirian. Jika sudah memiliki sahamnya, jangan ragu untuk menjual. Karena proporsi kepemilikan pengendali cukup besar, penjualan sedikit demi sedikit akan membuat harga saham turun berkepanjangan.
Panduan Beli
Mengetahui saham mana yang mau dibeli barulah separuh dari pekerjaan praktisi crisis investing. Separuh selanjutnya adalah ketenangan melakukan eksekusi. Bersiap menaruh modal pada titik di mana risiko telah diminimalisir serendah mungkin dan peluang pemulihan mulai tampak nyata.
Strategi Uang Dingin dan Cadangan Tunai
Uang dingin didefinisikan sebagai modal yang tidak akan digunakan untuk biaya operasional, cicilan, maupun dana darurat dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Investasi pada saham yang sedang mengalami krisis menuntut ketersediaan dana yang sepenuhnya terpisah dari kebutuhan hidup jangka pendek atau uang dingin. Hal ini mencegah terjadinya penjualan demi memenuhi kebutuhan mendesak saat harga saham justru sedang berada di titik terendah. Jangan sampai analisis kita benar tapi tetap mengalami kerugian karena desakan likuiditas kebutuhan rumah tangga.
Investor sebaiknya memiliki cadangan tunai, idealnya 20%-30% dari modal investasi. Cadangan ini berguna jika tiba-tiba ada penurunan signifikan harga saham, baik dari saham yang sudah kita miliki maupun dari saham yang baru masuk radar. Kejadian trading halt 2 hari berturut-turut di bulan januari 2026 karena sentimen MSCI menjadi contoh baik kegunaan cadangan tunai. Kita bisa menggunakannya untuk melakukan average down atau membeli saham baru.
Waktu Yang Tepat Untuk Membeli
Waktu yang tepat untuk membeli saham bukan dengan memprediksi harga terendah, karena saham yang mengalami krisis biasanya akan menyentuh titik terendah sepanjang masa. Kita tidak tahu sampai seberapa dalam penurunannya.
Ada 3 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan waktu beli :
1. Stabilitas harga
2. Volume transaksi
3. Tanda perbaikan fundamental mulai terdeteksi
Waktu yang tepat untuk membeli adalah ketika tekanan jual telah mencapai titik jenuh, ditandai pergerakan harga saham yang stabil atau sideway dalam kurun waktu tertentu. Ini menunjukkan pelaku pasar telah menyerap seluruh berita buruk dan tidak ada lagi tekanan jual masif yang mampu menekan harga ke level yang lebih rendah.
Volume transaksi terkadang perlu dipertimbangkan karena menjadi indikator serapan pasar. Volume transaksi yang meningkat signifikan saat harga stabil di valuasi sangat rendah, namun tidak diikuti oleh penurunan harga lebih lanjut, menandakan adanya proses akumulasi.
Tanda-tanda perbaikan fundamental bisa menjadi titik masuk ke suatu saham. Perbaikan bisa berupa pergantian direksi, restrukturisasi, mengubah fokus ke bidang yang paling menguntungkan, dan lainnya. Walaupun perbaikan belum tentu membuat emiten keluar dari krisis. Harapan pasar yang timbul dari aksi nyata tersebut bisa memicu kenaikan harga saham.

Tuan VIX
Indeks VIX (Volatility Index) adalah ukuran statistik yang mencerminkan estimasi pasar terhadap volatilitas indeks S&P 500 dalam 30 hari ke depan. VIX digunakan untuk mengukur tingkat ketidakpastian serta ekspektasi risiko pelaku pasar global. Atau bahasa sederhananya untuk mengukur tingkat ketakutan terhadap pasar modal. Tuan VIX sering disebut sebagai Mr. Fear.
Kenaikan VIX biasanya memicu modal asing keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Ini menyebabkan harga saham ikut terdiskon tanpa alasan fundamental.
Jika Tuan VIX mulai naik diatas 30, pasar sedang diawal kepanikan masal. Ini jadi alarm kita untuk mulai berburu saham. Semakin besar VIX, semakin baik untuk crisis investing.
Artikel pendukung:
Mengenal VIX, Alat Pendeteksi Krisis Yang Efektif
Diversifikasi
Diversifikasi tetap diperlukan dalam crisis investing, namun jumlahnya terbatas karena peluang menemukan saham dengan potensi bagus juga terbatas.
Pembaca mungkin bisa membuat sistem diversifikasi sendiri yang bisa membuat nyaman selama menunggu hasil investasi. Saya sendiri punya panduan dasar dalam diversifikasi :
“Pembelian dalam 1 saham maksimal 50% dari total modal, sebagus apapun potensi saham yang dibeli.”
Dengan formula ini, saham yang dimiliki dalam 1 waktu berkisar 2-5 saham.
Katalis Harga Saham
Setelah membeli saham, harapan terbaik adalah harga saham akan langsung naik. Agar tidak menunggu sesuatu yang hanya diawang-awang saja, kita perlu memahami berbagai katalis yang menyebabkan harga saham krisis akan naik.
Sentimen Makro: The Fed dan IHSG
Sentimen makro merupakan kondisi lingkungan ekonomi dan psikologis pasar secara keseluruhan yang memengaruhi minat beli investor. Sentimen makro bisa menjadi:
1. Katalis eksternal yang dapat menaikkan harga saham meskipun belum ada perbakan fundamental emiten.
2. Menahan kenaikan harga saham meskipun sudah ada perbaikan fundamental emiten.
Kebijakan The Fed merupakan penggerak utama likuiditas global yang berdampak langsung pada pasar modal Indonesia. Arus modal yang masuk dan keluar dari pasar modal Indonesia akan berpengaruh terhadap pergerakan harga saham, termasuk saham krisis. Berikut beberapa kebijakan The Fed yang bisa menjadi katalis kenaikan harga saham :
1. Penurunan suku bunga
2. Kebijakan quantitative easing, terjadi dalam kondisi luar biasa seperti krisis finansial 2008 dan krisis Covid 2020. The Fed membeli aset keuangan milik pemerintah dan lembaga keuangan swasta dalam jumlah besar untuk meningkatkan jumlah uang yang beredar guna merangsang aktivitas peminjaman dan investasi.
IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan yang berfungsi menyederhanakan kinerja harga saham di pasar modal Indonesia. JIka IHSG naik berarti pasar modal Indonesia secara umum mengalami kenaikan. Begitu juga sebaliknya. Dalam konteks crisis investing, penguatan IHSG bisa menjadi faktor pendukung bagi saham-saham yang sedang berada dalam fase pemulihan untuk mengakhiri periode sideway.
Katalis Fundamental: Kenaikan EPS dan Pertumbuhan Nilai Buku
Kenaikan EPS karena kegiatan operasional menjadi indikator objektif perbaikan fundamental emiten. Kenaikan EPS, apalagi dalam beberapa kuartal secara simultan, biasanya juga akan menaikkan nilai buku. Jika nilai buku naik, PBV akan turun. Pasar akan merespon dengan menaikkan harga saham.
Kenaikan EPS dan nilai buku bisa juga terjadi karena kegiatan non operasional, misal keuntungan yang diakui karena peningkatan nilai aset, seperti aset tanah, ekuitas, dan yang lain. Kenaikan jenis ini mungkin akan menyebabkan harga saham naik, tapi tidak sebesar jika disebabkan kegiatan operasional.
Katalis Aksi Korporasi: Stock Split dan Right Issue Diatas Nilai Buku
Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham, berfungsi meningkatkan likuiditas perdagangan. Secara fundamental, stock split tidak mengubah nilai kapitalisasi pasar maupun persentase kepemilikan, namun aksi ini sering menjadi katalis positif. Peningkatan volume transaksi yang dihasilkan dari harga yang lebih terjangkau membantu saham keluar dari sideway ketika krisis belum berakhir atau menambah daya naik harga saham ketika jalan keluar dari krisis sudah terlihat.
Penerbitan saham baru melalui right issue yang dieksekusi pada harga di atas nilai buku merupakan sinyal penguatan fundamental yang kuat bagi emiten krisis. Aksi korporasi ini mendatangkan 3 manfaat nyata :
1. Emiten mendapatkan modal untuk memperbaiki fundamental
2. Nilai buku ikut meningkat
3. Menunjukkan komitmen kuat dari pemegang saham pengendali jika mereka ikut eksekusi hak right issue-nya
Red Flag Setelah Membeli Saham
Setelah membeli saham, kita sebaiknya tetap waspada terhadap dinamika emiten yang cepat berubah karena dampak krisis yang dialami. Dinamika yang terjadi terkadang akan merugikan emiten, bahkan menjadi pertanda untuk memikirkan ulang keputusan investasi kita. Saya mencatat beberapa kejadian yang menjadi red flag setelah kita membeli saham krisis. Jika salah satu kejadian terjadi, pertimbangkan dengan sangat serius untuk menjual saham meskipun dalam posisi rugi. Melindungi modal jauh lebih penting daripada mengejar potensi pemulihan.
Notasi Khusus
Notasi khusus adalah peringatan yang diberikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kode saham perusahaan untuk menginformasikan adanya kendala teknis, administratif, atau fundamental pada emiten tersebut. Notasi ini berupa huruf.
Beberapa notasi dapat dijadikan alarm bahaya bagi crisis investing:
A – adanya opini “tidak wajar” dari akuntan publik
B – adanya permohonan pailit untuk emiten
C – kejadian perkara hukum pada emiten atau anak perusahaan
L – terlambat mempublikasikan laporan keuangan
M – adanya permohonan PKPU
Saya membuat artikel pendukung yang berisi semua notasi khusus dari BEI :
Notasi Khusus Dari BEI Untuk Saham Bermasalah
Right Issue Dibawah Nilai Buku
Emiten yang sedang mengalami krisis terkadang melakukan right issue sebagai sarana untuk mendapatkan dana segar. Namun, jika harga pelaksanaan ditetapkan di bawah nilai buku, menjadi sinyal peringatan yang serius bagi investor.
Right issue dibawah nilai buku menyebabkan dilusi kepemilikan saham dan membuat nilai buku turun. Jika penurunannya cukup dalam, akan membuat fondasi crisis investing kita berubah.
Pengendali Mulai Jualan Saham
Sebelum membeli saham, kita melalui tahap analisa kualitatif terhadap pengendali. Salah satu poin yang diperiksa adalah apakah pengendali gemar atau pernah menjual saham. Terkadang jawabannya tidak. Namun, beberapa waktu setelah kita membeli saham, pengendali justru mulai menjual saham.
Tindakan itu berarti pengendali sudah kehilangan kepercayaan terhadap emitennya sendiri. Jika sudah seperti ini, sulit mengharapkan kerja keras dari pengendali dan direksi.
Panduan Jual
Di masa awal mempraktikkan crisis investing, saya merasa jauh lebih mudah menentukan waktu untuk membeli daripada menentukan waktu untuk menjual. Ada parameter yang jelas untuk membeli: kepanikan masal, kejatuhan PBV ke titik terendah, harga sudah kondisi sideway, dan yang lainnya. Tidak demikian dengan waktu menjual, karena crisis investing tidak berpatokan kepada metode valuasi statis yang umum digunakan. Seiring waktu, saya menyadari bahwa parameter utama dalam menjual adalah rangkaian waktu krisis itu sendiri.
Buatlah Jalan Cerita
Rangkaian waktu krisis bermula ketika sebuah peristiwa besar menghantam emiten dan menjadi penyebab utama krisis terjadi. Peristiwa ini yang menjadi alasan awal kita membeli saham tersebut. Secara logika, benar untuk mengatakan bahwa waktu menjual yang tepat adalah ketika harga saham sudah naik signifikan karena penyebab krisis sudah teratasi dan emiten sudah memulihkan diri.
Agar tidak kebingungan dalam menunggu hasil investasi, crisis investing memiliki metode Buatlah Jalan Cerita. Metode ini mengharuskan kita menulis sebuah narasi yang berisi :
1. Penyebab krisis
2. Langkah-langkah yang mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab krisis
3. Progres emiten dalam menghilangkan penyebab krisis
Dengan membuat jalan cerita, kita tidak akan bingung atau terombang-ambing dalam keraguan ketika ada perkembangan terbaru yang terjadi dengan emiten. Misal ada beberapa direksi emiten yang mengundurkan diri bersamaan dan pasar bereaksi negatif dengan menurunkan harga saham. Kita harus ikut menjual atau menahan. Tindakan untuk menjual atau mempertahankan saham murni berpegang kepada jalan cerita, bukan mengikuti psikologi pasar.
Agar pembaca lebih jelas dalam memahami jalan cerita, saya memberikan contoh jalan cerita ketika membeli AKPI yang memberikan keuntungan 6 kali lipat dalam artikel dibawah ini :
Berapa Lama Memegang Sebuah Saham? —> artikel dibuat berseri sampai bagian 2
Waktu Yang Tepat Untuk Menjual: Jual karena Target Tercapai vs Jual karena Tesis Batal
Jalan cerita yang kita buat belum tentu happy ending seperti di film. Terkadang kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa emiten gagal menghilangkan penyebab krisis dan keburu kehabisan nafas.
Kalau jalan cerita berakhir happy ending, kita mendapat keuntungan. Risiko terbesar dalam skenario ini hanyalah ‘menjual terlalu cepat’ saat harga masih melaju. Namun, kita tidak perlu menyesal. Sebab, begitu penyebab krisis hilang dan perusahaan pulih, tugas kita sebagai praktisi crisis investing sudah selesai. Tidak ada lagi tesis yang bisa kita pegang untuk terus bertahan di sana
Kalau jalan cerita berakhir pahit, ada beberapa fakta yang mendukung bahwa tesis kita gagal, maka langkah terbaik yang kita lakukan adalah menjual dan menerima kerugian. Ini lebih baik daripada menunggu tanpa memiliki pegangan. Ingatkan diri bahwa fokus kita adalah menjaga modal. Kerugian lebih baik daripada kehilangan seluruh modal.
Mental pemenang
Dari awal kita sudah membahas 2 aspek dalam crisis investing: fondasi pemikiran dan panduan teknis. Ada 1 hal lagi yang terkadang menjadi penentu keberhasilan investasi kita: mentalitas. Ini menjadi pembeda apakah kita akan menjadi :
1. Pemenang, yang tersenyum di akhir dengan keuntungan yang memuaskan
2. Penonton, yang menyesal karena krisis telah teridentifikasi tapi tidak berani membeli, sementara waktu membuktikan ini adalah investasi yang bagus
3. Korban psikologi pasar, yang menyesal karena menjual rugi akibat panik, ternyata setelah menjual, emiten bisa menghilangkan penyebab krisis
4. Penjudi, yang menyesal karena tesis batal tapi tidak segera menjual hingga mengalami kerugian lebih besar.
Saat fondasi pemikiran sudah solid, teknis sudah benar, mental-lah yang menjaga kita tidak hanyut oleh arus pasar.
Menguasai Diri di Tengah Badai: Berani Menjadi Minoritas yang Logis
Tahun 2015 pasar modal Indonesia mengalami penurunan IHSG karena melemahnya harga komoditas, terutama batubara. Saat itu, berita pasar modal dipenuhi sentimen negatif betapa suramnya harga batubara dalam beberapa tahun ke depan. Ditambah bumbu negara-negara besar akan beralih ke sumber energi ramah lingkungan.
Media merekomendasikan pembacanya untuk tidak membeli saham perusahaan pertambangan batubara, atau menjual saham batubara jika memilikinya. Analis sekuritas, yang notabene memiliki gelar profesi, juga mengatakan hal yang sama. Jual saham perusahaan yang berkaitan dengan batubara. Mereka menambahkan alasan dengan memasukkan analisis terhadap grafik pola pergerakan harga saham dan juga hitung-hitungan fundamental yang rumit.
Ketika media dan analis mengatakan hal yang sama bahwa prospek industri baturaba akan suram, apa yang ada dalam benak pembaca? Apakah mempercayai perkataan media dan analis, atau berusaha melakukan riset sendiri. Jika melakukan riset sendiri dan menemukan fakta bahwa harga batubara bersifat siklis secara historis dan akan kembali naik, apakah pembaca berani melakukan pembelian saham emiten batubara.
Kondisi seperti ini selalu kita temui dalam crisis investing. Kita akan menjadi minoritas yang memiliki sudut pandang berlawanan dengan mayoritas pasar. Di saat pasar sangat pesimis dan skeptis, kita berada di pihak yang optimis. Optimisme ini tentu harus didasarkan pada logika yang solid dan analisis yang valid. Jika logika dan analisis kita mengatakan kita benar, maka kita akan mampu berdiri di tengah badai.
Proteksi Modal: Fokus pada Downside
Fokus pada downside adalah menjaga agar modal tidak tergerus habis. Ini cara bertahan hidup yang menjadi fondasi utama crisis investing. Sebelum memikirkan seberapa besar keuntungan yang bisa didapat, kita harus lebih dulu memastikan bahwa kita tidak akan hancur dalam prosesnya.
Fokus pada downside menciptakan kondisi investasi yang asimetris. Artinya kita hanya bersedia masuk ke sebuah saham krisis jika potensi kerugian sudah diminimalisir sekecil mungkin, sementara potensi kenaikan saat krisis teratasi bisa mencapai ratusan persen. Kita tidak perlu menebak kapan harga akan naik. Dengan membatasi potensi kerugian di angka yang kecil, kita memberikan ruang bagi harga saham untuk tumbuh secara eksponensial ketika pemulihan terjadi.
Fokus pada downside juga memberikan rem pengaman jika ternyata tesis kita salah. Kita tidak akan membiarkan diri jatuh terlalu dalam hingga tidak bisa bangkit kembali. Fokus pada downside akan memberikan kita keberanian untuk mengakui kita salah, belajar dari kesalahan, dan terus melaju dengan cara yang lebih baik.
Berani Beli & Berani Jual
Banyak investor terjebak terus-menerus melakukan analisis namun tidak pernah berani membeli karena takut harga akan turun lebih jauh. Kita harus menyadari hampir mustahil bisa membeli tepat di titik terendah. Jika semua parameter sudah terpenuhi, milikilah keberanian untuk menekan tombol beli. Percayai hasil analisis kita, abaikan kepanikan pasar.
Menjual punya 2 sisi yang berbeda. Menjual dalam posisi untung dan dalam posisi rugi.
Menjual dalam posisi untung adalah keberanian melawan keserakahan. Saat krisis sudah teratasi, fundamental perusahaan membaik, dan harga saham naik, akan ada godaan untuk terus menahan saham dengan harapan untung lebih besar. Berani jual berarti kita memiliki disiplin untuk keluar saat jalan cerita sudah selesai, tanpa peduli jika harga masih bisa naik lagi setelahnya.
Menjual dalam posisi rugi adalah keberanian melawan ego. Jika tesis kita salah dan jalan cerita tidak berakhir baik, kita harus berani menjual untuk mengamankan modal. Menahan saham tanpa pegangan dan hanya berharap kepada pasar hanya akan membuat kita tenggelam lebih dalam.
Waktu Adalah Teman: Bertahan Hingga Jalan Cerita Menemukan Titik Terang
Emiten membutuhkan waktu untuk dapat keluar dari krisis, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Menunggu pemulihan emiten bukanlah sesuatu yang mudah, membutuhkan mental baja. Selama waktu menunggu akan ada banyak kemungkinan terjadi di pasar: masih belum redanya berbagai sentimen negatif terhadap emiten, pasar turun serempak karena sentimen yang tidak terkait dengan emiten yang kita beli, dan yang lain.
Melalui itu semua bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang sulit jika kita punya jalan cerita. Berpegang teguhlah pada jalan cerita ini. Dia yang akan memberitahu kita respon terbaik terhadap dinamika pasar.
Masa menunggu bukanlah sesuatu yang pasif, kita diwajibkan selalu memantau perkembangan emiten. Apakah masih di jalur jalan cerita atau tesisnya sudah batal. Kita juga harus waspada di beberapa waktu penting, salah satunya ketika masa publikasi laporan keuangan sudah tiba.
Anggaplah masa menunggu ini seperti kita menonton film. Jika kita bertahan sampai selesai dan emiten berhasil happy ending, kita akan mendapat reward yang luar biasa.
Studi Kasus
Ada banyak emiten yang sudah saya analisis, satu-dua diantaranya dipublikasikan di blog ini sebagai contoh kasus dan penerapan kerangka kerja crisis investing:
1. Krisis Harga Saham MNCN: Penyebab, Potensi, dan Resiko
2. Saham EMDE: Kelebihan, Kelemahan, dan Potensi Cuan
3. Krisis Harga Saham ECII & Potensi Rebound
4. Saham Mustika Ratu (MRAT): Penyebab Penurunan Harga Saham, Potensi Profit, dan Resiko Yang Menyertai
5. TARA – Penghuni Papan Pemantauan Khusus Dengan PBV Terkecil di Bursa Efek Indonesia
Penutup
Pembaca sudah sampai disini. Itu berarti sudah menempuh perjalanan panjang crisis investing: dari fondasi pemikiran, panduan teknis yang presisi, dan mentalitas seorang pemenang. Ketiga hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Menjadi seorang praktisi crisis investing berarti memilih jalan yang jarang dilalui. Kita memilih untuk tidak ikut dalam kerumunan yang panik, tidak hanyut dalam euforia yang buta. Kita adalah seorang minoritas yang bergerak berdasarkan data, logika, dan jalan cerita yang valid.
Pasar modal akan selalu menyajikan krisis demi krisis. Namun, bagi kita yang sudah memiliki peta dan kompas, krisis bukan lagi ancaman, melainkan peluang besar yang tersembunyi di balik ketakutan massa.
Pada akhirnya, keberhasilan investasi kita tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di pasar, melainkan oleh bagaimana kita meresponsnya. Selamat menganalisis, selamat mengelola risiko, dan yang terpenting: selamat menjadi pemenang di tengah badai.
Dalam krisis, ada profit berlimpah…..