Menyikapi Perang Iran dan Krisis Selat Hormuz dari Sudut Pandang Crisis Investing

Menyikapi Perang Iran dari Sudut Pandang Crisis Investing

 

Catatan Awal :

Tulisan ini akan membersamai perjalanan krisis Iran dan Selat Hormuz dari sudut pandang crisis investing. Selama krisis berlangsung, saya akan melakukan update setiap hari. Baik update IHSG maupun update perkembangan terbaru Selat Hormuz. Selain menjadi catatan penting ketika memilih saham dalam beberapa hari belakangan ini, juga akan menjadi catatan berharga di masa depan.

Hari Sabtu kemarin tidak seperti hari libur biasanya. Berita tentang serangan AS dan Israel ke Iran membuat saya selalu membuka internet untuk memantau perkembangan. Hari Minggu berita bertambah dahsyat dengan diumumkan wafatnya Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Perkembangan geopolitik dunia seperti ini sangat penting karena mempengaruhi pasar modal Indonesia. Saya langsung membuat tulisan tentang skenario yang akan terjadi dan memuatnya di web Kompasiana. Pembaca bisa membacanya di link ini :
Melihat Perang Iran dari Sudut Pandang Crisis Investing di Pasar Modal Indonesia

Di dalam tulisan itu saya memperkirakan IHSG akan turun cukup dalam di hari Senin 2 Maret 2026. Penurunan akan dimotori saham-saham blue chips. Benar saja, di hari Senin IHSG turun 2,66%. Bobot terbesar penurunan diberikan oleh 3 bank besar: BBRI, BMRI, dan BBCA.

Jika dalam tulisan di Kompasiana saya membahas peristiwa di Iran secara umum, dalam tulisan ini saya mencoba mengulasnya lebih detail sesuai kerangka kerja Crisis Investing. Namun sebelum itu, mari kita melihat beberapa aspek yang berpengaruh dalam peristiwa ini.

Peran Iran dalam Perekonomian Dunia

Dalam perekonomian dunia, Iran memegang peranan penting dalam sektor energi: minyak dan gas bumi. Iran memegang kendali strategis di 2 aspek sekaligus :
1. Dalam sektor produksi, Iran memiliki cadangan minyak mentah terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia. Walaupun terkena sanksi internasional, aliran minyak dan gas dari Iran tetap menjadi nyawa bagi banyak industri di Asia.
2. Dalam sektor distribusi, Iran memiliki Selat Hormuz. Perairan ini menjadi nadi pengiriman minyak dan gas ke seluruh dunia. Melalui Selat Hormuz, pasokan minyak dan gas dikirim dari negara-negara produsen di wilayah Timur Tengah ke seluruh dunia.

Dari 2 hal di atas, yang menjadi perhatian seluruh dunia adalah Selat Hormuz. Jika selat ditutup, minyak dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, UEA, dan Qatar tidak bisa dikirim ke pelanggan di belahan dunia lain. Imbasnya pasokan minyak ke seluruh dunia menipis dan membuat harga minyak melonjak. Jika harga minyak melonjak, seluruh industri di dunia akan terpengaruh.

Kondisi Selat Hormuz Saat Ini

Saya mencoba mengecek apa yang terjadi di Selat Hormuz pagi ini. Apakah Iran memutuskan untuk menutup total Selat Hormuz. Jawabannya belum secara total. Tapi Iran melakukan beberapa tindakan yang sangat tajam:
– Angkatan Laut Iran mengerahkan ratusan kapal cepat yang dipersenjatai dengan rudal anti-kapal untuk melakukan patroli di titik tersempit selat (sekitar 34 km). Kehadiran mereka cukup untuk menciptakan status “Unsafe for Navigation“.
– Laporan dari kapal-kapal komersial yang berada di sekitar Teluk Oman menyebutkan adanya gangguan sinyal GPS dari wilayah pesisir Iran. Tindakan ini membuat navigasi tanker raksasa menjadi sangat berbahaya karena risiko tabrakan atau kandas, yang secara otomatis membuat nakhoda menolak untuk memasuki selat.
– Iran mencegat beberapa kapal kargo yang mencoba melintas dengan alasan “pemeriksaan keamanan”. Tindakan ini memakan waktu berjam-jam dan meningkatkan biaya operasional kapal, mempertegas pesan bahwa tidak ada yang bisa lewat tanpa izin Teheran.
– Beberapa tindakan Iran membuat asuransi pelayaran global menaikkan premi risiko hingga 500% atau bahkan membatalkan polis. Ini skak mat. Tanpa asuransi, secara teknis tidak ada tanker minyak legal yang berani bergerak.

Walaupun belum ditutup total, gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia jelas terlihat. Dan itu terkonfirmasi dengan harga minyak dunia yang terus merangkak naik. Sampai kapan gangguan ini akan berlanjut?

Update 5 Maret 2026 :
Iran secara resmi menutup Selat Hormuz. Namun China dikabarkan melobi Iran untuk mengizinkan kapal mengangkut minyak ke China. Selain itu Trump juga mengatakan akan mengawal kapal yang berlayar di Selat Hormuz. Namun, kondisi di selat masih tidak memungkinkan untuk pelayaran. Banyak negara, termasuk Indonesia, sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk jika krisis berlangsung lama. Indonesia yang cadangan minyaknya untuk 21 hari ke depan, sudah mulai ancang-ancang mengalihkan pembelian dari Timur Tengah ke negara Afrika, Brazil, atau Amerika Serikat.

Trump Mengatakan Perang akan Berlangsung 4 Pekan

Dalam sebuah kesempatan, presiden AS – Trump, ditanya media berapa lama perang dengan Iran akan berlangsung. Dia mengatakan dengan yakin, paling lama 4 pekan. Saya berpikir, apa yang terjadi dengan pasar modal Indonesia jika harga minyak dunia mengalami kenaikan selama 4 pekan.

Update Dampak Krisis Iran Terhadap IHSG

2 Maret 2026 : -2.66%
3 Maret 2026 : -0.96%
4 Maret 2026 : -4.57%
5 Maret 2026 : +1.76%
6 Maret 2026 : -1.62%
9 Maret 2026 : -3.27%

Menyikapi Perang Iran dari Sudut Pandang Crisis Investing

Apakah perang Iran akan mengakibatkan krisis di Pasar Modal Indonesia? Pertanyaan ini sulit dijawab. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Banyak faktor yang memengaruhi. Bisa jadi pengaruhnya seperti dampak perang tarif Trump yang terjadi persis 1 tahun yang lalu. Atau bisa seperti krisis harga komoditas di tahun 2015. Atau mungkin hanya berdampak seminggu saja.

Crisis investing mengajarkan kepada kita, alih-alih menebak apa yang akan terjadi di masa depan, lebih baik kita fokus kepada hal yang paling mendasar. Melihat apakah ada emiten yang berpotensi dibeli berdasarkan kerangka kerja crisis investing.

Dalam kondisi penurunan IHSG seperti ini, terkadang kita terbawa oleh arus pasar. Padahal, crisis investing biasanya menuntut kita untuk menjadi kontrarian. Orang lain menjual, kita membeli. Orang lain panik, kita tenang. Orang lain ketakutan, kita bersemangat. Untuk menjadi kontrarian di saat kepanikan mendominasi bukan sesuatu yang mudah. Karena itu saya menulis beberapa tips yang bisa digunakan untuk pembaca yang bersemangat menjadi praktisi crisis investing.

Fokus pada Harga Saham, Bukan pada IHSG

Dalam kondisi seperti ini, terkadang kita terlalu fokus dengan pergerakan IHSG. Setiap jam, setiap menit, yang kita lihat adalah IHSG. Apakah sideway atau turun. Tidak salah memang, karena itu cara yang paling mudah melihat kondisi pasar modal kita. Namun, jika kita terlalu fokus dengan IHSG, terkadang kita melupakan hal yang lebih esensial, harga saham emiten-emiten yang masuk dalam screening.

Dalam kondisi tidak pasti, harga saham akan bergerak lebih volatile. Tadinya adem ayem, lalu tiba-tiba turun drastis sampai 10%, lalu bisa jadi naik kembali. Jika kita terlalu fokus dengan IHSG, kita bisa jadi melewatkan kesempatan untuk membeli saham incaran. Saya pernah mengalaminya. Semoga pembaca tidak.

Fokuslah pada harga saham emiten yang masuk kerangka kerja kita. Cek IHSG ketika pasar sudah tutup.

Berpijak pada Fundamental, Abaikan Hiruk Pikuk Pasar

Jika ada saham yang baru masuk screening, segera lakukan analisis fundamental. Cek apakah dia mampu bertahan menghadapi krisis. Fokus saja pada daya tahan emiten. Masukkan faktor kenaikan harga minyak dunia ke analisis kita. Sementara faktor yang lain, abaikan saja, termasuk pesimisme pasar yang menyebabkan harga saham itu turun tajam.

Berani Membeli

Kalau harga saham turun berjamaah, maka kita akan mendapat 2 hal:
1. Emiten yang sudah masuk screening dan sudah dianalisis, harga sahamnya akan turun dan menyentuh kisaran target beli
2. Ada emiten baru yang masuk screening karena harga sahamnya turun tajam

Kalau kemungkinan kedua yang terjadi, kita perlu melakukan analisis dulu. Namun, jika kemungkinan pertama yang terjadi, yang dibutuhkan selanjutnya adalah keberanian untuk membeli. Ini sulit-sulit mudah. Bisa jadi kita tidak berani membeli karena terbawa arus pasar. Atau belum mau membeli karena khawatir harga saham akan terus turun setelah kita membeli.

Dalam kerangka kerja crisis investing, saya menulis bahwa mustahil untuk kita tahu titik terendah dari saham yang sedang turun. Bagaimana cara terbaik menentukan harga beli. Kalau pembaca penasaran bisa membaca 12 pilar kerangka kerja crisis investing. Klik saja tulisan itu.

Selamat berburu emiten di saat krisis.

Dalam krisis, ada profit berlimpah….

Copyright © 2026 Heri Danu