Investasi atau trading, sebuah pertanyaan yang sering menghampiri para investor ritel. Pertanyaan ini mungkin muncul ketika kita memposisikan diri mau jadi seperti apa di dunia pasar modal. Mau jadi investor atau mau jadi trader. Tentu keputusannya bergantung profil psikologi dan emosi dari orang tersebut. Pertanyaan ini mungkin juga muncul ketika akan membeli sebuah emiten. Apakah emiten saya beli untuk investasi, berani memegang untuk jangka waktu lama dengan harapan profit maksimal. Atau hanya berencana memegang sebentar saja, begitu profit langsung jual meskipun untung sedikit.
Untuk memilih investasi atau trading tak lepas dari definisi dua pilihan itu. Dalam hal ini erat kaitannya dengan jangka waktu memegang sebuah saham. Ada pandangan yang berbeda-beda berapa lama horizon waktunya sehingga dikatakan investasi atau trading.
Buat crisis investing, pembelian saham dikatakan sebuah investasi jika kita berani memegangnya dalam jangka waktu 3 bulan sampai 3 tahun. Angka ini muncul karena rata-rata siklus bullish dan bearish di Indonesia adalah 5 tahun. Jika kita membeli sebuah saham ketika emiten mengalami krisis, maka rata-rata paling lama 3 tahun setelahnya harga saham akan rebound. Bisa lebih cepat dari itu jika momentum pembeliannya tepat. Bisa saja setelah beli saham, harga mulai rebound dan 3 bulan setelahnya harga kembali ke titik awal sebelum krisis. Ini alasan saya mematok horizon waktu 3 bulan-3 tahun.
Sebuah pembelian saham dikatakan trading jika kita berencana memegangnya paling lama 3 bulan. Tujuan kita hanya mendapat sedikit keuntungan. Jika sudah untung sedikit, kita langsung jual. Bisa dijual dalam waktu 1 bulan setelah pembelian, atau 1 minggu, atau di hari yang sama dengan waktu beli.
Crisis investing tentu saja menganjurkan kita menjadi seorang investor. Sebelum membeli, kita sudah melakukan analisis menyeluruh menggunakan kerangka kerja crisis investing. Memerlukan waktu yang tidak sedikit. Setelah mendapat kesimpulan bahwa potensi profit tinggi dan tingkat risiko rendah. Kenapa buru-buru menjual ketika profit baru sedikit, sementara kemungkinan bertambahnya profit masih terbuka lebar berdasarkan hasil analisis?
Namun, praktiknya tidak semudah itu. Ada hal-hal yang terkadang “memaksa” kita menjadi trader dadakan. Hal-hal yang berupa banyak bentuk, tapi punya 1 benang merah, bernama kebutuhan. Kebutuhan ini dan itu yang memaksa kita menjual saham sebelum waktunya.
3 Kantong Keuangan untuk Investor Saham
Idealnya, untuk menjadi seorang investor, kita harus memiliki 3 kantong:
1.Portofolio saham dan dana di sekuritas. Ini senjata utama kita
2.Pendapatan rutin bulanan. Bagi seorang pegawai, berasal dari gajinya. Bagi seorang pedagang, berasal dari keuntungannya. Bagi seorang investor full time seperti saya, berasal dari hasil lain di luar investasi seperti menulis buku, mengadakan pelatihan, menjual merchandise, dan yang lainnya.
3.Dana cadangan 2 tahun ke depan. Jumlahnya kebutuhan bulanan x 24. Ini untuk bantalan jika saham-saham kita memerlukan waktu yang cukup lama untuk rebound. Jika kebutuhan keluarga kita Rp10 juta per bulan. Maka kantong ini berisi Rp240 juta.
Jika pembaca ada yang sudah memiliki ketiganya, pembaca adalah orang yang sangat beruntung. Ini berarti pembaca sudah hidup dengan layak dan nyaman plus bisa berinvestasi.
Namun, ada investor yang belum memiliki ketiganya. Poin 1 pasti sudah punya semua. Poin 2 sebagian besar sudah punya. Poin 3 hanya sebagian kecil yang punya.
Kondisi yang saya sebutkan sebelumnya, di mana seorang investor dipaksa menjadi trader oleh kebutuhan, investor tersebut biasanya hanya punya poin 1 saja atau punya poin 1 dan 2. Investor full time mungkin hanya punya penghasilan dari akun saham saja. Ketika terdesak kebutuhan sementara saham-sahamnya sedang macet, dia akan terpaksa menjual saham meskipun belum waktunya menjual. Bisa dalam kondisi untung sedikit atau bahkan rugi. Investor yang punya poin 1 dan 2 sedikit lebih beruntung. Dia mungkin akan dipaksa jadi trader jika ada kebutuhan nonrutin. Uang bulanan sudah terpenuhi, namun perlu biaya anak sekolah, istri minta liburan, atau biaya mudik lebaran.
Ketika kita tidak punya kantong ke 2 dan atau 3, posisi psikologis kita langsung runtuh. Kita dipaksa memotong pohon yang baru saja berakar hanya untuk mengambil rantingnya demi menyalakan api dapur hari ini. Kita dipaksa menjadi trader bukan karena tidak paham teori investasi, melainkan karena arsitektur keuangan pribadi kita belum memberi ruang bagi strategi kita untuk bernapas.
Strategi investasi terbaik di dunia pun akan kalah jika tidak ditopang oleh manajemen kas yang realistis.
Solusi Menuju Investor Sejati
Jika pembaca belum punya sumber pendapatan rutin yang cukup untuk belanja bulanan. Baik pembaca seorang investor full time, karyawan, maupun pedagang, segera benahi kantong ini. Jika tidak, maka strategi investasi kita akan terus terganggu karena desakan dapur. Profit tidak maksimal, pembelajaran dari pengalaman pun tidak tuntas.
Caranya tentu saja berbeda bagi setiap orang. Bagi saya pribadi, bisa dengan memanfaatkan pengetahuan saya di pasar modal. Menulis buku, membuat channel youtube, mengadakan kursus berbayar, dan lainnya. Buat teman-teman yang karyawan atau pedagang tentu punya caranya sendiri.
Setelah kantong 2 ini selesai, baru bisa melangkah ke kantong 3. Menyisihkan dana cadangan. Dana yang disisihkan bisa dari kantong 1 atau kantong 2. Terserah saja. Untuk saya pribadi, saya condong menggunakan sebagian profit di kantong 1 untuk dimasukkan ke kantong 3, sampai jumlahnya sesuai target kita. Sementara jika kita punya dana berlebih dari kantong 2, bisa dialihkan ke kantong 1 sebagai tambahan modal, atau dialihkan ke investasi di luar saham sebagai diversifikasi, atau untuk menghibur anak istri, hehe.
Mungkin pembaca ada yang bertanya, di mana sebaiknya menempatkan dana cadangan? Yang jelas tidak di rekening bank atau di bawah bantal. Dana di rekening bank akan tergerus oleh inflasi, sementara dana di bawah bantal ada risiko total loss 🙂 . Tempatkan dana cadangan ini di instrumen yang likuid dan berisiko rendah. Likuid agar dapat diambil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Berisiko rendah walau potensi profitnya kecil karena tujuan dana cadangan adalah pengaman. Bisa di deposito jangka pendek atau dibelikan emas. Saya pribadi lebih suka emas.
Bagaimana Jika Saat Ini Dipaksa Menjadi Trader
Beberapa di antara kita mungkin pernah dipaksa menjadi trader, atau bahkan saat ini kita sedang dipaksa menjadi trader. Satu hal yang saya yakin, dipaksa menjadi trader bukanlah sebuah aib bagi investor. Itu adalah jalan yang harus dilalui untuk menjadi investor sejati.
Dipaksa menjadi trader bukanlah aib, sepanjang kita sadar dan direncanakan dengan baik, serta memiliki manajemen risiko yang ketat. Lain cerita jika kita terjebak dalam dilema identitas. Niat awal ingin menjadi investor yang sabar menunggu siklus pemulihan, tetapi di tengah jalan terpaksa banting setir menjadi trader karena kebutuhan.
Kita Sedang Berjuang di Jalan Yang Sama
Saya menulis artikel ini bukan dari posisi seseorang yang sudah terbebas sepenuhnya dari ujian pasar, melainkan dari tengah arena perjuangan yang sama dengan pembaca semua.
Saya paham betul getirnya menatap layar bursa saat saham pilihan kita masih tertidur di lembah krisis, sementara kebutuhan hidup terus berjalan tanpa bisa ditunda.
Menjadi investor di pasar modal Indonesia bukanlah jalan pintas yang mudah, terutama di saat kita memulai dengan modal yang terbatas. Menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan keberanian membenahi kondisi finansial di dunia nyata.
Target idealnya memang memiliki kantong 1, 2, dan 3. Dari hati yang terdalam, saya mendoakan pembaca yang saat ini masih berjuang keras menstabilkan kantong 2, ataupun yang sedang tertatih-tatih mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengisi kantong 3, agar senantiasa diberikan kelapangan rezeki, keteguhan mental, dan kemudahan jalan.
Perjuangan ini mungkin terasa berat. Namun, percayalah bahwa kita sedang ditempa menjadi investor sejati dan mandiri. Kelak, jika ketiga kantong itu sudah berdiri kokoh, berselancar di dunia pasar modal akan terasa sangat nikmat dan melegakan. Kita tidak akan pernah lagi dipaksa menjadi trader hanya karena desakan kebutuhan.
Tetap bertahan, tetap melangkah, dan tetap semangat, wahai investor…